Curug Citiis Garut, Pesona Wisata Alam yang Pudar

Dulu semasa kecil, saya bisa bolak-balik ke Curug Citiis Garut setiap minggu bersama teman-teman sebaya. Biasanya hanya sekadar botram, atau makan-makan disana. Ada beberapa alternatif rute perjalanan, bisa melalui tegaljambu berputar ke ara Cipanas. Atau langsung dari panampungan, melewati kolam / Balong Cipelen dan menyusuri jalan menuju Naringgul Cipanas.

Curug Citiis Garut

Curug Citiis Garut Pesona Kaki Gunung Guntur

Alasan yang kedua, Curug Citiis Garut tidak dipungut bayaran alias gratis. Hanya bermodalkan tenaga dan makanan serta minuman yang dibawa dari rumah, kami bersama teman-teman bisa berwisata ke lokasi tersebut.

Lain dulu berbeda kondisi sekarang, baru-baru ini kami mendapatkan data dari lapangan Curug Citiis sudah mempunyai tiket masuk. Padahal kalau mau jujur, kondisi Curug Citiis Garut ketika saya masih kecil, dengan situasi saat ini jauh ‘tanah ke langit’. Dulu perjalanan menyusuri ‘selokan kecil’ dengan suasana kiri kanan jalan Cipansa masih banyak ‘balong’ sangat mengasyikkan. Di sepanjang jalan, sapaan ramah dari tetangga kampung baik di pamendong, tegal jambu sampai dengan naringgul membuat kami betah.

Ketika sampai di lokasi, bukan masalah gratis tidaknya. Akan tetapi kondisi Curug Citiis masih cukup terawat, tidak ada galian liar di sekitar lokasi Gunung Guntur Cipanas Garut. Kalau boleh berkata apa adanya : “saat ini walaupun dibayar, saya berpikir dua kali untuk sekadar botram ke Curug Citiis Garut”.

Maaf mungkin ini ungkapan cukup pahit dan seakan-akan menyudutkan salah satu Tempat Wisata di Garut tersebut. Padahal inilah ungkapan kasih sayang, karena alam tidak bisa bersilat lidah berpencak keyboard. Seandainya Curug Citiis bisa bicara, saya yakin ‘beliaau’ akan protes dengan sepak terjang orang di sekitarnya yang tidak sadar lingkungan dan tidak sadar wisata.

Daya Tarik Tempat Wisata di Garut yang luar biasa

Tak semua daerah memiliki objek kepariwisataan di negeri ini mampu menggoda naluri bisnis kalangan produser film dan sinetron. Namun kenyataan membuktikan, kepariwisataan Garut senantiasa diperhitungkan sebagai sasaran lokasi syuting film nasional, hingga era industry sinetron.

Banyak film dan sinetron tertarik menggelar kegiatan syutingnya di daerah Garut. Kondisi ini amat menguntungkan untuk kelangsungan sektor kepariwisataan daerah. Karena turut mempromosikan kekayaan alam Garut. Bahkan keberadaan Kampung Sampireun di Kecamatan Samarang sebagai asset baru, pernah dikemas ke dalam latar gambar sinetron Melody Cinta tayangan TV Nasional.

Kehadiran sejumlah artis kondang tanah air seperti, Camelia Malik, Jaja Miharja, Farouk Afero (Almarhum), Hermalia Puteri serta Denny Malik, yang berperan penting dalam sinetron tersebut, sekaligus menggosok unsur promosi bergengsi bagi wajah objek wisata Kampung Sampireun.

Dalam kilas balik peristiwa lama, kawasan wisata daerah Garut memang tak pernah luput memagut promosi mahal yang mengharumkan keberadaan objek kepariwisataannya.

Mengenal Masa Kejayaan Pariwisata Garut

Kunjungan seorang bernama besar sekaliber Charlie Chaplin di masa lampau, membingkai sejarah kejayaan Bukit Ngamplang di Kecamatan Cilawu. Getar promosi wisata Garut lalu banyak berulang saat iklim produksi perfilman nasional menghangat.

Di awal putaran tahun 1960-an sutradara Djamal Halputra memilih lokasi kawasan Cipanas di Kecamatan Tarogong untuk syuting film Segenggam Tanah Perbatasan. Tentu saja kegiatan syuting film ini mengdongkrak pamor Cipanas, karena membintangkan artis sekondang pasangan Suzana dan Dickky Supraptoyang tengah diidolai penonton film nasional.

Kawasan wisata Cipanas kian menghangat dalam promosi perfilman, tatkala sutradara Drs. Asrul Sani membuat film keagamaan Panggilan Tanah Sutji pada tahun 1962 yang dibintangi artis Nurbany Yusuf, Ismed M Nur (Almarhum, Aedy Moward (Almarhum), serta sejumlah bintang kenamaan lainnya.

Selepas dekade 1960-an film-film nasional terhitung deras memotret wajah kepariwisataan daerah Garut. Tak hanya kecantikan panorama alam Cipanas, objek wisata lainnya seperti Curug Citiis, Candi Cangkuang, Situ Bagendit, Curug Dayeuh Manggung, maupun Kawah Papandayan, mewarnai latar perceritaan bermacam corak film nasional.

Boleh jadi, kejutan promosi kepariwisataan Garut dalam percaturan perfilman, terjadi saat sutradara liliek Sujio menggarap film bertema laga Si Buta Dari Gua Hantu (1971). Film ini mengdongkrak reputasi (Almarhum) Ratno Timoer sang pemeran pendekar buta, actor Kusno Soedjarwadi (Sapujagat) dan Maruli Sitompul, Mata Malaikat.
Kecantikan panorama Curug Citiis bersaksi, ketika sang pendekar Badra Mandrawata bersemedi.

Lalu membutakan kedua matanya untuk menandingi ketangguhan ilmu Mata Malaikat. Ini awal kelangsungan tokoh kependekaran Barda yang kemudian popular sebagai Si Buta Dari Goa Hantu. Karenanya sukses besar film Si Buta yang pertama sangat mengental dengan promosi berharga bagi kepariwisataan Garut. Sangat disesalkan keberadaan air terjun Citiis tidak mampu dilestraikan.

Curug Citiis Garut, Pesona yang Merana

Tragisnya, Curug Citiis kandas dari percaturan kepariwisataan Garut, setelah ditikam bencana Gunung Galunggung pada tahun 1982 yang berkepanjangan. Meskipun Curug Citiis masih termuat dalam Buku Panduan Wisata Kabupaten Garut terbitan 2003.

Andai saja lokasi air terjun Citiis lestari, sentuhan promosi wisata daerah Garut dalam pita film dan sinetron, akan selalu terbuka. Ini amat dimungkinkan, karena objek wisata air terjun senantiasa dibutuhkan untuk film beragam tema.

Mulai dari tema drama percintaan, horror, mistik, legenda maupun laga. Sejumlah film yang berlokasi di Garut, termasuk Sona Anak Srigala terpaksa melirik Curug Dayeuh Manggung. Namun keindahan dan kekuatan kadar film air terjun Citiis tak bisa ditandingi curug lainnya di seputar Garut. Terlebih lokasi air terjun Citiis mudah dijangkau dari perkotaan, dengan daya dukung medan yang meringankan teknis bermacam kendaraan.

Hotel dan Penginapan di sekitar Curug Citiis Cipanas Garut

Tidak terhitung jumlahnya hotel di Garut yang berada di wilayah ini, seandainya pesona wisata Curug Citiis dan Gunung Guntur Cipanas bisa dibenahi. Sudah dipastikan akan berimbas kepada okupansi dan tingkat kunjungan penginapan melati maupun hotel berbintang di Cipanas Garut. Tempat Wisata Garut tersebut akan menjadi destinasi rekreasi yang cukup menarik. Semoga stake holder dan para pelaku bisnis pariwisata di Garut, bisa bahu membahu untuk mewujudkannya.

Curug Citiis Garut

Harga Tiket Masuk Curug Citiis Garut

Untuk harga tiket di Curug Citiis ada beberapa kali penagihan terlebih pada saat libur Lebaran pada 2017. Antaralain Sebagai Berikut :

  1. Tiket yang satu ini atas nama KOMPEPAR (Kelompok Penggerak Pariwisata) yaitu sebesar RP 7.000
  2. HTM yang atas nama Karang Taruna Rajawali Sebesar RP 5.000
  3. Tarif parkir yang atas nama  RW 06 Motor sebesar Rp 3.000 dan Mobil Rp 5.000
  4. Harga Tiket kunjungan sebesar Rp 3.000

Pengalaman Wisata Ke Curug Citiis

Saat Anda datang ke Curug Citiis pada Lebaran 2017 anda harus membawa minimal uang Rp 18.000 itu belum termasuk makan dan minum. Harga yang cukup selangit ini mungkin aji mumpung dari para pihak tertentu. Mulai dari masyarakat yang tidak sadar lingkungan dan sadar wisata, sampai dengan mereka para plat merah yang tidak sadar diri.

Kondisi Curug Citiis saat ini pun jauh dengan yang dulu. Pada saat Bulan Ramadhan 2016 kami melakukan survey sampai ke Puncak Gunung Guntur. Hasilnya cukup mengejutkan, karena kondisi di sepanjang perjalanan menuju Curug Citiis cukup hancur oleh penggalian pasir yang tidak jelas ke legalitasannya. Ditambah lagi mobil-mobil Truk berseliweran mengangkut pasir yang membuat debu-debu berterbangan dan cukup membuat tidak nyaman.

Kami lebih terkejut lagi karena hanya beberapa ratus meter lagi, pertambangan pasir tersebut akan sampai ke area Curug Citiis. 10 meter dari Curug Citiis ada sebuah warung yang dagangannya adalah perbekalan yang di butuhkan oleh para pendaki. seperti mie, goreng-gorengan, kopi, rokok dan roti.

Suasana Malam di Curug Citiis Cipanas Garut

Karena hari mulai gelap dan jarak kepuncak masih jauh, kamipun dari Team survey Hotel Development Group membuat tenda hanya 100 meter dari Curug Citiis. Malam pun tiba dan Kami mulai membuat api unggun dan mengambil beberapa photo pemandangan Garut yang terlihat sangat indah.

Jam sudah menunjukan angka 11, Kami pun beristirahat, namun jam 3 kaki saya terasa dingin dan tidak disangka tenda kami ada yang merobek, dan cukup besar hingga angin pun masuk kencang. dan saya membangunkan Team. Sungguh tidak kami sangka perbekalan dan Handphone serta power bank kami hilang. Kamipun panik dan mulai mencari dengan teliiti hingga adzan Subuh. Namun semuanya tidak di temukan dan jelas si perobek tenda adalah pelakunnya.

Setelah Sembahyang Subuh kami pun melanjutkan perjalanan ke puncak. kami kembali di kejutkan dengan 2 orang pendaki yang dari Jakarta meminta tolong karena beberapa saat sebelum kami datang mereka telah di todong dan di rampas segala perbekalannya yang tersisa hanya pakaian yang menempel di badan.

Di sepanjang jalan menuju puncak hingga sampai Puncak Gunung Guntur sampah-sampah cukup berserakan. seperti bekas mie, roti, botol plastik, makanan kaleng dan minuman kaleng. hingga menurut team Medina Kamil yang membersihkan kurang lebih hampir 1 ton sampah Gunung Guntur yang di bersihkan.

Peta Lokasi Curug Citiis Cipanas Garut

KOMENTAR