Mengenal Kampung Pulo Garut

255

Sedang mencari tempat wisata ziarah yang ada di Garut ? Kampung Pulo bisa menjadi alternatif bagi Anda. Anda yang pernah mengunjungi Candi Cangkuang Garut sudah pasti tahu kampung adat ini. Kampung yang masih sangat kental akan adat istiadatnya yang belum terpengaruhi oleh dunia luar.

Mengenal Kampung Pulo, Kampung Adat di Tengah Situ Cangkuang

Berlokasi di tengah Situ Cangkuang ( pulau kecil di penjuru kota Garut ) terdapat sebuah kampung adat yang selalu menjadi destinasi pilihan dari wisatawan. Kampung ini dinamai Kampung Pulo atau kampung adat pulo. Sebuah kampung dengan pemandangan yang sejuk dan juga asri, jauh dari hiruk-piruk

Kampung Pulo, Kampung Adat di Situ Cangkuang

Lokasi tepatnya terletak di tengah situ atau danau cangkuang dengan jumlah dan bangunan rumah yang unik. Danau dan kampung adat ini menyimpan cerita tersendiri yang membuat wisatawan tergugah untuk menggali informasinya.

Asal Muasal Kampung Pulo

Asal muasal terbentuknya kampung adat pulo ini berawal dari kisah Eyang Embah Dalem Arif Muhammad. Beliau merupakan sesepuh yang telah lama menyebarkan agama islam di tanah jawa. Embah Dalem tinggal di sebuah kampung yang bernama kampung pulo kalo sekarang. Beliau menyebarkan agama islam disana hingga mempunyai keturunan.

Keturunan beliau terdiri dari 7 anak, 6 diantaranya berjenis kelamin perempuan dan 1 anak berjenis kelamin laki-kali. Pada abad ke 17, perkampungan tersebut terdiri dari enam rumah dan 1 musala. Rumah-rumah yang dibangun tersebut diperuntukan bagi anak perempuannya sementara musaha diperuntukan bagi anak laki-laki.

Oleh sebab itu, dari dulu hingga sekarang bangunan rumah yang ada disini tidak diperbolehkan ditambah maupun dikurangi. Begitupun dengan kepala keluarganya harus tetap, tidak boleh dikurangi maupun di kurangi. Tradisi tersebut masih sangat terjaga sampai sekarang dan itu merupakan simbol dari putra dan putri Embah Dalem Arif Muhammad. Memiliki tujuh anak, harus tetep 7 pokok bangunan.

Karena adat dan tradisi disini masih ketat, jadi setiap anak laki-laki ataupun perempuan yang menikah haruslah berpindah tempat tidak diperbolehkan tinggal di kampungnya ini. Paling lama 2 minggu anaknya yang menikah tersebut harus sudah tidak berada di perkampungannya. Kecuali jika orang tua dari anak tersebut meninggal, maka si anak bisa menempati rumah dari orang tuanya tersebut. Informasi terbaru dari kampung pulo ini sekarang orang yang tinggal disini adalah 23 orang yaitu diantaranya 13 lelaki dan 10 perempuan.

Adat Unik di Kampung Pulo

Mungkin diatas Anda sudah melihat adanya hal atau adat yang unik di kampung ini. Akan tetapi adat unik tersebut tidak sampai disini. Masih banyak adat-adat unik lainya yang harus Anda ketahui, diantaranya sebagai berikut :

Hal unik pertama disini adalah yang berhak menerima hak waris bukan anak laki-laki melainkan anak perempuan. Adat tersebut muncul karena dahulu anak laki-laki dari mbah Dalem Arif Muhammad meninggal pada saat disunat. Sehingga hal tersebut dijadikan pembelajaran dan membuat adanya tradisi unik tersebut.

Hal unik lainya adalah setiap warga atau orang yang tidak disini tidak diperbolehkan untuk menabuh gong besar serta tidak diperbolehkan juga memelihara binatang besar berkaki empat. Seperti Kuda, Kambing, Sapi dan lain sebagainya.

Menabuh gong besar tidak diperbolehkan karena berkaitan dengan kematiannya anak laki-laki dari mbah dalem. Sementara tidak diperbolehkannya memelihara hewan besar berkaki empat dikarenakan sebagian besar warga kampung tersebut berkerja dan menghasilkan uang dari hasil bertani serta berkebun. Sehingga dikhawatirkan hewan besar berkaki 4 tersebut bisa merusak sawah dan juga perkebunan mereka.

Akan tetapi meskipun tidak diperbolehkan memelihara hewan besar berkaki empat, masyarakat di kampung pulo diperbolehkan memakan daging dari hewan tersebut. Hal unik lainya adalah tidak diperbolehkannya datang ke makam keramat pada hari rabu dan malam rabu.

Kampung Adat Pulo di Jadikan Objek Wisata

Dengan adanya hal-hal unik tersebut, dan masyarakatnya yang sangat taat dengan adat istiadat dari kampung pulo ini. Seseorang yang rumahnya dekat dengan perkampungan tersebut berpikir untuk menjadikan kampung tersebut sebagai objek wisata. Apalagi ditambah dengan adanya candi yang terletak disana. Tidak hanya itu adanya situ atau danau yang cukup besar membuat orang tersebut yakin bisa menjadikan kampung tersebut sebagai objek wisata.

Candi Cangkuang

Alhamdulilah sekarang ini objek wisata di kawasan ini menjadi salah satu objek wisata yang cukup populer di Garut. Dengan tetap mempertahankan adat-istiadatnya dari kampung pulo tersebut. Sekarang masyarakat dari kampung pulo tersebut diuntungakan karena bisa mendapatkan uang selain dari berkebun dan juga dari sawahnya. Melainkan bisa juga berdagang di objek wisata tersebut.

Makam Embah Dalem Arif Muhammad

Makam Embah Dalem Arif Muhammad terletak berdekatan dengan Candi Cangkuang. Menurut dugaan tujuan dimakamkan disana adalah untuk proses syiar Islam serta melambangkan kerukunan umat beragama yang sudah ada sejak zaman nenek moyang kita.

Arif Muhammad adalah seorang tokoh penyebar agama Islam di daerah Cangkuang dan sekitarnya Berdasarkan cerita beliau adalah seorang menantu Sultan Sumenep dari Madura yang mendapat tugas dari Sultan Agung Mataram pada permulaan abad ke-17 untuk menghancurkan kubu pertahanan VOC jakarta.

 

KOMENTAR