Marketing Politik vs Marketing Sabun Mandi di Era Digital

5078

H Enjang Tedi S Sos

Satu pertanyaan penting dalam marketing sabun mandi dan marketing politik kira-kira adalah “how to deliver produk, idea, benefit to the customer/audience”. Ungkapan umum “kalau barangnya bagus mudah menjualnya” sudah tidak sepenuhnya  berlaku di dunia penuh sandiwara ini. Sekalipun barang anda bagus tetap saja harus kerja keras untuk bisa dikonversi menjadi uang!. Karena saat ini semua “barang dan orang” terlihat bagus, ditelusur ke visi dan misinya juga bagus, ditelusur pendidikannya juga bagus, dicari ke catatan masa lalunya juga tidak ada “riwayat kejahatan”.

Marketing politik dan juga produk, selalu butuh media tatap muka,  tim kampanye atau media marketing digital.  Marketing digital saat ini sudah tidak bisa diabaikan, karena jauh lebih efektif, punya daya sebar yang luar biasa, dan bisa lebih murah!  Dengan marketing digital apa yang kita ingin sampaikan dapat terkirim ke ribuan bahkan puluhan ribu orang “tanpa makelar” langsung ke sasaran.

Mereka membuka pesan kita bahkan pada saat sedang tiduran di kamar tanpa harus berpaas-panasan pergi ke panggung kampanye. zaman now nyaris gak ada yang suka mendengarkan pidato, lebih baik main games mobile legend atau POBG, dan pastinya nonton youtube goyang dua jari atau berselancar di Instagram kepoin dan stalking Story IG  jauh lebih menarik.

Abdul Hakam Nagib, MSc

Marketing digital ini berupa teks, image dan video tentang para politisi yang dikirim ke handphone para target. Didesain sedemikian rupa agar sampai kepada segmentasi yang diharapkan.

Nyaris tidak ada bedanya marketing politik dengan marketing sabun mandi. Selalu ada model, harapan yang dijual, dan berkata produk kualitas nomor satu.  Bedanya lebih kepada obyeknya, kalau sabun mandi setiap hari dipakai. Interaksi pembeli dan produk sungguh besar, sedangkan politisi tidak kerasa bahwa mereka “setiap hari dipakai” untuk kepentingan rakyatnya.

Dengan demikian effort para politisi yang produknya abstrak harus lebih besar. Harus sangat kuat dan intensif di mengkomunikasikan pesan dan positioning. Jika sabun mandi positioningnya “untuk kulit mulus bebas kuman”, mungkin kalau politisi untuk “perjalanan bangsa mulus, kehidupan mulus, harga-harga murah, dan bebas korupsi”

Dengan pendekatan marketing sabun mandi maka politisi harus tampil klimis, agar tampilannya terlihat layak untuk dipilih.  Benefit memilih politisi juga harus ditonjolkan, sebagai “amanah, putra asli daerah, kompeten, jujur, cerdas, punya integritas, jejak rekam bagus, dan satu lagi mencintai rakyatnya dengan cinta yang sampai mati”.

Kira-kira spirit benefit para politisi adalah: “Pilihlah aku orang dengan banyak benefit untuk Lamongan lebih baik, untuk Kebumen lebih beriman, untuk Bandung Juara, untuk Aceh lebih islami, untuk Palembang lebih kosmopolitan, Manado lebih cantik, untuk Kuningan lebih asri, dan juga untuk Garut lebih amazing”

Sampai disitu sebenarnya masih aman, tidak ada yang salah dalam merumuskan visi dan misi, juga program. Sudah dipastikan narasinya indah, dipikirkannya lama, dan berpanjang-panjang.

Visi dan misi adalah narasi indah yang dikonstruksi dengan lumayan susah payah. Tentang misi dan visi itu hari ini telah menjadi semacam kewajiban teoritik, untuk setiap institusi.  Saking teoritik dan indahnya kadang para pelakunya saja tidak ingat lagi detail kata-kata misi dan visi yang dipampang di halaman kantornya.

Tapi tentu visi dan misi harus ada, untuk bahan ngobrol dan kampanye walaupun audien atau masanya tidak akan hapal juga. Gak masalah! Karena misi itu bukan untuk dihapal tapi untuk diperjuangkan!

Saatnya para politisi mendesain pesan digital, tidak relevan lagi politisi sekedar mengandalkan team  yang berkata “saya punya pengikut 1.000 orang”, saya tokoh masyarakat desa A yang berpengaruh, saya kepala desa B yang ditaati, saya warga asli daerah C yang seluruh keluarga saya tergantung pilihannya kepada saya.  Klaim bisa dibuat sesuka hati, tapi kita tidak bisa jamin kebenarannya.  Ada juga yang bilang “saya ketua ormas, saya tokoh agama” yang dengan itu merasa punyai klaim mendeliver pesan dan mempengaruhi masa pemilih.

Mungkin yang bersangkutan tidak sedang berbohong, tapi bagaimana kita memverifikasi bahwa perkataaannya benar, bagaimana dia punya waktu untuk berkata kepada setiap orang untuk memilih anda?.

Marketing konvensional dan kampanye jadul sangat berbeda dengan marketing digital. Politisi akan mempunyai data yang valid bahwa video profilnya sudah ditonton oleh 30 ribu orang misalnya, tulisannya sudah dibaca oleh 100 ribu pembaca online. Wajahnya sudah dilike oleh 12.000 orang. Semuanya terukur, jelas, dan dapat diverifikasi bahwa pesan sudah sampai, bahwa profil anda sudah dikirim kepada customer yang dalam hal ini adalah para calon pemilih.

Pesan digital  untuk marketing politik pada prinsipnya juga sama sama dengan ikan sabun mandi, tidak bisa cukup satu kali. Tidak ada iklan sabun mandi manapun yang beriklan hanya satu kali kemudian ongkang-ongkang kaki menerima pembelian. Padahal mungkin barangnya sudah laku dan dipakai terus oleh masyarakat.

Dia terus beriklan mempengaruhi pikiran, setiap hari dan terus beriklan sampai puluhan milyar dana iklan setiap tahunnya!  Demikian halnya dengan politik demokrasi saat ini, mungkin anda bukan paling hebat tapi ada bisa juara ketika menyapa lebih lama, punya dana lebih besar untuk beriklan secara digital. Pesaing anda yang beriklan dan berkampanye secara manual sekalipun secara kompetensi lebih hebat, lebih punya komitmen dan lebih jujur bisa saja kalah secara menyakitkan!

Apalagi buat Calon Bupati yang kemungkinan suaranya beda-beda tipis antara menang dan kalah. Bisa jadi kekalahan team anda karena fokus di dunia nyata tapi tidak pasang kuda-kuda di dunia maya. Sehingga pemilih netral dan pemilih “bingung” yang tidak mengenal keduanya, akhirnya berlabuh di salah satu pasangan yang sudah Go Online dan lebih melek Digital Marketing.

Jadi sebelum terlambat, dan segala  usaha, uang harapan, dan mimpi anda berakhir di angan-angan.  berkampanyelah juga secara digital!.

KOMENTAR