Politik Kardus dan Pemilih Kurang Waras Zaman Now

25

Kardus sudah dua kali menjadi trending topik di dunia politik, yang pertama ketika petinggi partai Demokrat yang marah menyerang Jenderal Prabowo dengan diksi yang sangat keras sebagai “Jenderal Kardus”. Waktu itu terkait dengan keputusan Prabowo untuk mengabaikan keinginan Partai Demokrat mengusung Agus Hari Mukti Yudoyono menjadi Cawapres.

Harapan besar AHY mendampingi Prabowo di Pilpres 2019 mendatang kandas dalam hitungan jam saja. Sempat ramai berbalas serangan antara dua kubu Demokrat dan Gerindra sebelum akhirnya sepakat berdamai berada di Kubu Prabowo.

Politik Kardus

Politik akhirnya bermuara pada kepentingan bersama sekeras apapun mereka berkonflik. Saling hujat tak masalah, saling caci itu biasa sepanjang bisa dibuat rasionalisasi baru, tidak aneh jika kemudian mereka rukun kembali duduk bersama menghujat pihak lainnya.

Kardus kembali populer di dunia politik dengan kabar kotak suara kardus bergembok. Untuk yang kedua kali kardus dinilai minor dan diekploitasi secara politik. Kardus menjadi bulan-bulanan karena sifatnya yang rentan, dan identik dengan dus rokok, mie instant atau barang-barang rumah tangga. Kardus sudah terlanjur identik dengan bungkus-bungkus barang konsumsi rumah tangga.

Jadi menarik untuk diekpoitasi kelemahannya dalam diksi politik. Politik kardus dan apalagi bersentuhan dengan kotak suara pemilu, Orang dengan mudah bilang “pemerintah keterlaluan, masa hal penting dibungkus kardus, mikir gak sih”. Selanjutnya gorengan akan mengalir dengan deras menjumpai seluruh akun media sosial yang ramai dan mudah “terbakar”.

Gorengan Kardus
Sekali “kadus” bersentuhan dalam politik akan langsung jadi isu yang enak untuk “digoreng”. Masa kertas suara disimpan dalam kardus, betapa rentannya untuk dimanipulasi” ungkap yang tidak setuju. Sementara pemerintah berpandangan bahwa gembok menjamin keaslian dari kertas suara. Lagi pula ada segelnya, seperti soal-soal ujian yang dikirim tidak menggunakan kotak kayu dan kotak besi cukup amplop soal yang disegel.

Tapi ya bukan politik kalau tidak ada upaya goreng menggoreng isu, bukan pada substansi.
Politik zaman now memang sangat dinamis, jika dulu perang kata-kata lewat poster dan teriakan-teriakan kampanye para pendukung di truk-truk bak terbuka, dampaknya hanya sedikit saja.

Beda dengan politik Zaman now dimana setiap diksi bisa punya ekses viral yang menghebohkan. Teriakan “hidup Golkar”, “hidup PPP”, “Hidup PDI”, “Hidup PKS”, Hidup “Gerindra” di dunia nyata tidak akan menimbulkan kegaduhan besar.

Beda sekali dengan berita yang sudah diberi bumbu, dipilihkan diksi darurat dan kemudian disebar ke dunia maya. Kegaduhan dalam politik diciptakan untuk perolehan suara, lalu masing-masing pihak akan berkata dan menuding pihak lain yang membuat gaduh. Lalu akan berkata bahwa “kita korban”, “kita terdzolimi” “kita difitnah”, “kita dikriminalisasi”, “kita diserang”, “kita diabaikan”, “kita berjuang untuk negara lebih baik”. Sebuah narasi umum yang akan keluar dari setiap politisi.

Politik zaman now memang politik kardus, apapun di dalamnya dibungkus kardus. Mie instan aneka rasa berbungkus kardus, rokok berbungkus kardus, jajanan berbungkus kardus.

Demikian politik juga sama, semua rasa dan retorika keluarnya sama “bungkus kardus politik”. Seperti kardus semua sama tampilannya hanya beda logo dan tulisannya, bahan kardus mirip-mirip dan sekedar bisa membungkus barang-barang ringan murahan bukan barang yang berat, masive dan mahal seperti mutiara, emas dan permata.

Opini Kardus dan Pemilih Kurang Waras

Politik karduspun sama, hanya bisa mengangkat tema remeh temeh, tapi mudah populer, sekedar menggoreng isu permukaannya tidak pada kedalamannya. Tujuan “politik kardus” bukan mencerahkan tapi menggiring opini, opini dibungkus dalam “kardus” diberi label dan disebarkan ke seluruh negeri.

Tidak ada niat pendidikan politik masyarakat, tidak juga berjuang memberi pemahaman bangunan persoalan bangsa. Dalam politik zaman now sepertinya pemilih pintar, pemilih cerdas bahkan pemilih waras mungkin tidak begitu penting, yang paling penting dalam politik itu adalah dipilih, dan berkuasa!. Ketika Orang Gila boleh memilih, lucu dan sedikit menggelikan jika menggembar-gemborkan dan memakai tagline #pemilihcerdas #pemilihpintar dan #pemilihwaras.

“Kardus” di dalam dunia politik sudah kehilangan sisi positifnya sebagai bahan yang ringan dapat di daur ulang. Kardus adalah simbol kerapuhan, tidak punya nilai idealisme (segala sesuatu dimasukan ke dalam kotak kardus tanpa pilih pilih merek) dan tentu saja murah.

Apapun yang dilekatkan dengan kardus akan tergradasi nilainya. Jenderal yang sangat terhormatpun ketika dilekatkan dengan kardus menjadi sangat jelek kesannya, Kardus tidak terangkat seperti jenderal, tapi jenderal terendahkan menjadi sekelas “kardus”.

Itulah politik diksinya sering membuat kuping memerah, hati perih dan amarah memuncak. Diksi-diksi terus diciptakan, para pembuat meme, para penyebar pesan online setiap hari memproduksi isu-isu sekelas kardus baru untuk dibungkus dengan berbagai kata-kata menyerang pihak lainnya.

Dalam peperangan online dampaknya akan sangat luar biasa, karena memproduksinya mudah dan murah, sekedar berpikir menyerang menggunakan kreativitas, memilih diksi yang menusuk dan diberi sedikit rasionalisasi.

Jika masih “kurang nendang” bumbui dengan keyakinan, agama, suku dan mungkin semacam visi masa depan. Lalu sebarkan! Ribuan pesan-pesan setara karduspun disebar, disebar ulang menjadi jutaan pesan berkelas kardus yang bercerita tentang perjuangan demokrasi.

Bukan pesan dan kepedulian sesungguhnya, karena yang peduli yang penuh cinta hanya “bungkus kardusnya”. Mungkin di dalamnya adalah buaya darat politik dan mafia anggaran saja!

Sudah bukan hal aneh dalam dunia politik … analisa kadang dianggap fakta, menjadikan asumsi sebagai bukti dan prediksi sebagai saksi. Kenali kardus politik itu, bongkar isinya, jangan tertipu oleh merknya!.

REVIEW OVERVIEW
Aktual
Inspiratif
SHARE
Artikel SebelumnyaPaket Wisata HdG Garut
Artikel SelanjutnyaCalon Anggota Dewan Garut Paling Layak dipilih versi Kami
Just Tozie Like Kopi, I am a nobody and it does not matter who I am. I'm just a coffee and djie sam soe lover who want to share anything about what can be shared. Writing down what I wanted to write, whatever people agree or disagree, it does not matter, because I want to be myself without any frills. So, please enjoy what is available here.

KOMENTAR