Tips Agar Tidak Masuk Kategori Politisi Sontoloyo dan Genderuwo

54

Jangan terlalu Baper saat membaca judul artikel ini, Tidak usah terlalu mendalam membahas Sontoloyo dan Genderuwo karena kedua ‘keyword’ diatas bukan untuk diperdebatkan.

Idealnya kalaupun mau ‘berdebat’. Mulailah melakukan perdebatan dalam hal substantif. Pasalnya mayoritas masyarakat Indonesia masih minim literasi politik.

Pada masyarakat yang literasinya masih berkutat pada simbol, kulit dan permukaan, pesan dari simbol tersebut justru terlupakan. Jika kita bertanya bagaimana Tanggapan Rocky Gerung tentang keyword ‘Politisi Sontoloyo dan Genderuwo’ tentu jawabannya akan jauh berbeda dengan Ngabalin.

Politisi Sontoloyo

Dalam politik tidak usah aneh, jangan kaget mungkin setelah Sontoloyo dan Genderuwo akan ada lagi ‘keyword trend’ yang akan bergulir di masa yang akan datang. Jadi ingat salah satu petuah “Begawan Politik” yang pernah menjadi orang no.1 di Indonesia selama 32 Tahun H.M Soeharto yang berbunyi : “”Ojo Dumeh, Ojo Kagetan, lan Ojo Gumunan”

Sruput KopiTozie dulu .. isap 234, karena artikel ini sepertinya akan cukup panjang dan melelahkan. Sedikit membosankan kalau anda bukan orang yang mempunyai minat baca cukup tinggi. Akan tetapi jika anda bukan generasi kempong pandangan orang awam yang mencoba belajar apa itu ‘Citizen Journalism” mungkin bisa dijadikan bahan perenungan.

Pengadilan Politik

Pemilu Bulan April 2019 tinggal menghitung hari, pencoblosan di bilik suara menjadi momentum yang paling ditunggu oleh politisi, para pendukung dan masyarakat akan segera tiba.  Tentu hari yang paling mendebarkan para caleg karena segala kerja keras politik akan menemui hasilnya.  Kerja blusukan ke kantong-kantong pemilih, kerja dan biaya mencetak ribuan poster, membagikan beberapa box kartu nama, semua akan dapat dilihat hasilnya.

Para politisi akan segera mengetahui  seberapa  efektif kerja mereka mempengaruhi pemilih dengan berbagai cara, baik konversional mapun digital.  Cara konvensional dengan cara bergerak di dunia nyata seperti mencetak  kalender, dan alat peraga kampanye. Seluruh alat peraga itu telah didistribusikan ke para tetangga, kawan, kolega dan kelompok masyarakat yang diharapkan menjadi basis pendukung.

Cara digital dengan beriklan di dunia online sangat efektif Cuma belum disadari oleh para caleg. Mereka lebih memiih cara konvesional sekalipun berbiaya mahal.  Mereka berlomba mengeluarkan biaya kampanye yang mencapai puluhan juta bahkan milyaran rupiah agar dipilih. Untuk biaya konvensional yang tinggi sebagian caleg berhutang!.

Berbagai hasil perhitungan menunjukkan bahwa cara konvensional adalah cara paling lama dan mahal biayanya.  Karena terbatas biayanya, terbatas orang yang dapat dikumpulkan dalam lingkungan nyata.

Di dunia online sebenarnya mereka akan bisa lebih bersaing dengan leluasa.  Mereka bisa melakukan penguatan dari sekarang.  Kampanye online menjadi menentukan hasil pada persaingan tinggi pemilu kali ini. Caleg bersaing dengan caleg dari partainya sendiri dan caleg partai lain. Tentu tidak cukup sekedar dengan modal keliling sana sini, karena waktu terbatas dan biaya akan sangat besar.

Sihir Politik

Politik adalah sihir yang seharusnya bisa jadi momentum perubahan karakter!

Ketika orang terjun ke politik dan nyaleg maka dia akan terkena sihir politiik yang keren. Sihir politik menjelang pencobolosan membuat siapa saja yang pelit tiba-tiba baik hati dan pemurah. Biasa iuran warga hanya 50 ribu kalau sudah Jadi Caleg bisa jadi bayar iuran warga 1 juta. Yang bertahun tahun tidak datang menemui saudaranya bisa tiba-tiba semangat berkunjung dengan muka terseyum. Yang cenderung kurang senyum menjadi sangat manis penuh empati.  Itulah salah satu bentuk sihir politik.

Karena semua butuh dukungan, maka penting untuk datang, minta doa, blusukan dan sebagian bahkan ngamplop. Uang kadeudeuh katanya, biaya operasional cetusnya, biaya koordinasi bisiknya.  Tentu akan beda dengan dunia online, dimana banyak hal dikoordinasikan dari depan komputer.

Di dunia online, biaya kampanye selesai di awal karena internet tidak perlu jajan, dan tidak bisa berbohong, tidak juga modus.  Sedangkan di dunia konvensional uang harus selalu ada, karena kemanapun pergi akan mengeluarkan uang. Uang adalah bahasa koordinasi paling ampuh jaman ini, bahasa yang sangat mudah dicerna. Karena tua muda dari berbagai aliran politik manapun segera dapat berkomunikasi dengan uang.  Uang bahkan lebih lancar berkata-kata dan mempunyai efek dibanding  suara-suara kepedulian, dibanding bujuk rayu penuh janji!.

Pemilu itu ibarat saat ketok palu pada sidang pengadilan untuk vonis … apakah masuk ke singgasana penuh fasilitas dan berkuasa atau gagal.

Sayangnya tidak semua bahagia, ada yang pulang tertunduk layu..pada hari pencoblosan itu hanya sekitar 5 persen saja paca caleg akan bahagia. Selebihnya akan menerima kenyataan pahit gagal menjadi  dewan. Setiap pemilu selalu menyisakan kisah pilu. Caleg baik hati, kerja keras, penuh dedikasi banyak yang tersingkir dari persaingan. Harapan tinggal harapan, niat mengabdi tinggalah janji, ketika caleg ideal itu tersingkir di kampungnya sendiri.

Mengapa Harus Online

Anda bertarung dengan pesaing mungkin bukan hanya bersaing gagasan, tapi popularitas. Dunia internet sudah terbukti media paling efektif membuat perubahan nasib dan popularitas. Gak peduli dengan tampang tidak menarik dan bahkan banyak bekas jerawatpun dapat disulap menjadi seperti bintang film kenamaan. Wajah anda bisa diedit dan photonya dikirim ke seluruh calon pemilih melalui internet.

Anda harus lebih mengusai dunia online. Jangan sampai kegeeran sudah aman dari persaingan. Anda punya banyak teman, jangan lupa pesaing andapun punya banyak teman. Mungkin bangga karena banyak saudara padahal pesaing andapun sama. Demikan pula anda bisa saja merasa kegeeran akan dipilih karena merasa ganteng mungkin pesaing anda yang cantik punyai lebih kans menang.  Bisa juga anda merasa punya banyak jaringan padahal pesaing anda membangun jaringan via online dan offline yang jauh lebih efektif.

Online Untuk Menang

Jangan sampai karena anda mengabaikan kampanye online maka pemilu kali ini adalah menjadi mesin pembunuh harapan anda. Banyak orang baik, berpikiran cerdas, tetapi kebingungan memilih cara kampanye strategis dan kalah. Maka pikirannyapun tidak terpakai, ibarat mobil mewah bermesin modern dan ber cc besar teronggok di parkiran, Sementara,   mobil “odong-odong” pesaing anda  yang faham bagaimana kampaye secara online ramai menyusuri jalanan demokrasi kita.

Mungkin anda adalah politisi yang cocok untuk diibaratkan sebagai “mobil keren itu” yang akan segera parkir secara tragis di dalam garasi pemilu. Sementara pesaing anda yang anda kira sebagai mobil “odong-odong” pesta pora di jalanan di depan hidung anda!.

Selamat memilih kampaye online dengan adu konsep dan berbagi gagasan atau memilih kalah sebagai pecundang!. Gagasan keren anda harus dibagikan dan diketahui banyak orang. Kalau anda merasa cerdas atau pintar, baik dan menarik sudah saatnya melirik kekuasan. Bukan karena haus untuk berkuasa, cluenya : Segudang Kecerdasan dan Sekarung Kepintaran akan kalah dengan Segenggam Kekuasan atau Secuil Berlian”

KOMENTAR