“Jenderal Kardus”, Demam Capres dan Cawapres 2019

6737

Pembicaraan Capres dan Cawapres sedang memasuki demam tinggi di negeri ini, bahkan cenderung panas. Pas banget dibicarakan di suasana dingin ekstrem minggu-minggu ini untuk menghangatkan pikiran. Di beberapa daerah di pulau jawa terutama di pegunungan sentra hortikultura seperti Cikajang, Cisurupan, Dieng, Tawangmangu suhu mencapai di bawah 10 C di malam hari.

Sensasi politik tidak mengenal musim, selalu hangat untuk dibicarakan, apalagi saat deadline pendaftaran capres dan cawapres tanggal 10 Agustus 2018. Beberapa elit politik bahkan sudah mulai demam tinggi, terlihat dari ucapannya yang mirip anak terkena demam, anak demam suka “mengigau” bersuara aneh, memanggil-manggil atau kadang memaki-maki di luar kesadaran.

Gambar Ilustrasi : Aa Usep Ebit Mulyana Calon DPD Jabar Daerah Pemilihan Garut & Tasik

Capres dan Cawapres 2019

Ah dia memang sedang demam, harap dimaklum.!

Ada elit yang demam di salah satu koalisi yang menyebut pimpinan partai calon koalisinya sebagai “jenderal kardus”. Mungkin si bapak itu sedang sangat demam tinggi sehingga kena gejala mengigau saking kepanasannya. Suara demam di panggung politik segera menjadi trending topik di dunia maya.

Cari saja kata kunci “jendera kardus” di google sudah sangat menyebar, dan tentu kemudian obyek peperangan para penggemar dan para pembenci di dunia online lengkap dengan meme-nya. Celakanya demam di politik susah dikompres, tidak mudah dibuat segera lebih dingin dan sehat. Alih alih dikompres demam suka menular dan diviralkan. Para pendukung ketua partai saling tersinggung, ikut-ikutan panas dan demam tinggi, di berita-berita nasional kita saksikan mereka bersahut-sahutan saling “mengkarduskan”.

Politik memang drama yang tidak selalu diketahui jalan ceritanya dan apalagi endingnya. Kisah Ahok yang kalah di injuri time akibat keseleo lidah menjadi salah satu drama. Sebelumnya ada kisah Aceng Fikri yang tanpa modal bisa menjadi Bupati Garut, bukan karena cerdas tapi karena pasangannya artis yang sedang naik daun.

Kisah Aceng makin dramatis karena juga dimakzulkan sekedar karena mengirim sebuah sms pada istri mudanya. Puncak drama politik adalah kemenangan Jokowi, tokoh tanpa trah, bukan ketua partai, dan tidak berasal dari “elit”. Jokowi adalah drama terbesar dalam politik yang menggembirakan dan juga “menyesakkan dada” rivalnya, sampai hari ini, lama banget move onnya!

Para penonton geleng-geleng kepala menyaksikan panggung politik elit makin tidak bermutu. Baru beberapa hari elit politik saling mengunjungi, saling memberi harapan, saling memberi dukungan tiba tiba mereka saling memaki saling mengkardus-karduskan!

Arena makin gaduh walau, masih tanpa pemain utama. Ibarat pertandingan final sepakbola, para penonton melihat tegang ke tengah lapangan, wasit sudah menunggu, hakim garis sudah siap dan spanduk sudah dibentangkan para suporter. Tapi para pemain utama masih ada di ruang ganti, kabarnya sedang rapat menentukan pemain utama, agar menang, karena dalam politik itu, selain pemenang adalah pecundang!

Prabowo dan Jokowi masih di ruang ganti pemain. Mereka sangat serius karena akan menjalani duel klasik serasa Barcelona dan Real Madrid di liga Spanyol, atau Persib Bandung dan Persija Jakarta di Liga 1 Indonesia!

Duel klasik ini lepas dari teori umum, karena pertandingan sebelumnya sangat dramatis. Seorang Jokowi yang kurus, tidak ganteng, tidak punya kemampuan komunikasi yang keren mengalahkan Prabowo yang lahir dengan trah elit, warisan intelektual dari seorang profesor instrumentalis dunia, dan kaya raya. Apa yang kurang dari Prabowo, lahir sebagai anak orang pinter, ganteng, berkuasa.

Dia sangat “sempurna” sebagai seorang anak manusia, sehingga di kesempurnaan itulah kelemahannya, diantaranya adalah kontrol emosinya yang kurang kuat saat marah. Sangat wajar dan manusiawi karea beliau terlahir selalu menang, selalu di atas, sehingga prabowo muda kurang ditempa untuk merasakan apa itu arti berjuang dalam kehidupan.

Di sisi sebelahnya Jokowi, anak tukang mebel lulusan UGM tapi bukan lulusan ekonomi yang terlatih berbicara tentang ekonomi makro. Bukan aktivis dan ketua organisasi kemahasiswaan seperti HMI, GMNI, PMII, atau KAMMI yang terampil di diskusi-diskusi kebangsaan. Beliau hanya punya mimpi besar, kerja keras, dan kesabaran proses yang melimpah.

Saya melihat dua orang capres kita itu hebat, jika kita masih percaya pada manusia Indonesia. Mengkerdilkan salah satunya adalah mengkerdilkan keluarga kita sendiri. Jokowi dan Prabowo adalah kita, membenci salah satunya akan masuk kepada pribahasa “menepuk air di dulang terpercik muka sendiri”. Mereka adalah dua anak bangsa yang baik, bahkan terbaik dari opportunity yang ada. Atas nama apapun, atas nama pembangunan, atas nama rakyat, atas nama masa depan dan bahkan atas nama keagungan Tuhan, kau memilih prabowo atau jokowi! Silahkan!

Memilih tidak usah selalu dengan alasan yang gagah dan keren, atau menggunaan argumentasi lebay degan diksi “partai kafir” dan “partai Alloh”. Terlalu berani kita mengkomoditisasi Alloh untuk kepentingan kekuasaan dan isi perut. Saya sih sederhana, kita juga boleh memilih atas persamaan suka kerja, badan kurus, kesamaan profesi keluarga tentara, atau karena chemistry ke salah satunya.

Kita memilih, boleh juga untuk menyenangkan hati istri yang suka prabowo, menyenangkan hati mertua yang suka jokowi. Bagi para pemuda dan pemudi bisa juga memilih atas nama cinta dengan memilih capres Indonesia pilihan kekasih hati, itu namanya politik romantis! Politik perasaan juga keren, dan halal dalam politik sepanjang tidak kau pilih kedua-duanya, suara anda sah!

Jadi milih capres, adalah pilihan sederhana dan bahagia, titik!

KOMENTAR