Sinergitas Travel Agent Garut

Dunia Pariwisata saat ini sedang berduka, seperti kita ketahui Pandemi yang melanda negara kita masih berlangsung dan belum mendapatkan titik terang. Salah satu bidang usaha yang paling terdampak adalah Dunia Pariwisata.

Menyikapi hal ini, beberapa Travel Agent yang ada di Garut, dimulai dari kongkow di Pojok Ngabako sambil ngopi. Akhirnya mencuat untuk membuat Paguyuban yang benar-benar didasari oleh Kolaborasi dan kesamaan visi untuk ‘lebih ingin mendengar’ sesama insan pariwisata dan bisa berbagi. Baik itu berbagi pengalaman, berbagi kasusah, berbagi kakeheul berbagi rezeki dalam satu jalinan Silaturahmi.

Sinergitas Travel Agent Garut

Clue awalnya bagaimana membuat satu Komunitas yang “Saling Memberi Manfaat tanpa harus Saling Memanfaatkan”. Arti dari Kolaborasi yang sesungguhnya, dimana arti Kolaborasi berbeda jauh dengan Koordinasi. Kolaborasi itu Maju Mundur Bersama, Satu Menangis yang lain ikut merasakan kesakitannya, dengan tiga pilar penting : Kebersamaan, Solidaritas dan Kekeluargaan. Kalau memakai Bahasa Anak Muda Nongkrong Zaman sekarang, kami ingin membuat Paguyuban yang “Cubit Satu Cubit Sekompi” … sapapait samamanis. Dimana semua Anggota diberikan keleluasaan… Dialog bebas, Boleh menyanyi meskipun suaranya sumbang, Boleh Protes asal Objektif … Boleh ‘Marah’ asal tidak ‘Dendam’ ..
Koridornya sederhana ‘Etika kemesraan dalam satu Paguyuban’.

Seperti kita ketahui nilai Silaturahmi yang didasari dengan Keikhlasan akan memanjangkan umur dan rezeki. Dari beberapa sedulur Travel Agen di Garut akhirnya muncul Ide Segar yang sangat Segar dan semoga memberikan penyegaran.

Akhirnya dipilih Nama SEGAR (Sinergitas Travel Agent Garut) melalui perdebatan panjang yang alot dan menghabiskan energi cukup lumayan. Selain bergelas-gelas kopi, berlinting-linting Tembakau Aroma dan beberapa Kastrol Liwet.

Siapa saja yang tergabung di SEGAR ? kalau saya tulis detail saat ini, anda para pembaca tidak akan penasaran lagi. Oleh karena itu, akan kami bahas sepak terjang segar dalam postingan selanjutnya.

Manusia sebagai makhluk sosial tentunya memerlukan orang lain. Semakin banyak dan semakin sering interaksi seseorang dengan orang lain itu juga memupuk nilai-nilai tersendiri. Seringkali kita dengar mengenai kebersamaan, solidaritas dan kekeluargaan. Namun apa sebenenarnya arti dari ketiga hal tersebut?

Kebersamaan
Dalam keadaan bersama, belum tentu ada rasa kebersamaan. Namun rasa kebersamaan itu dapat muncul dan diawali dari keadaan bersama. Rasa kebersamaan tersebut akan muncul ketika kita bersama-sama dalam suatu kondisi, dalam kegiatan yang sama, menanggung beban yang sama. Tentunya dalam periode tertentu, rasa kebersamaan ini dapat disudahi, tentunya saat keadaan sudah menuntut untuk tidak bersama lagi. Meskipun tiap kebersamaan akan berakhir, namun kebersamaan itu indah untuk dijalani dan akan indah pula kenangannya saat diingat.

Solidaritas
Beranjak dari rasa kebersamaan, kini mengenai solidaritas. Berdasarkan definisi dari KBBI, dijelaskan bahwa solidaritas itu sendiri merupakan sifat (perasaan) solider; sifat satu rasa (senasib dsb); perasaan setia kawan. Menurut pendapat beberapa orang, solidaritas berarti rasa kebersamaan, rasa kesatuan kepentingan, sebagai salah satu individu dari sebuah ikatan yang mengikat sekelompok individu tersebut, baik ikatan organisasi maupun yang sejenisnya. Dapat dikatakan bahwa ungkapan solidaritas ini merupakan dampak dari rasa kebersamaan itu sendiri, misal berada dalam suatu kondisi , tujuan dan beban yang ditanggung bersama dan dalam rentang waktu yang cukup lama pula. Maka akan timbul perasaan solid, sudah saling satu antar individu dalam perkumpulan tersebut.

Kekeluargaan
Kekeluargaan merupakan asas penting yang banyak diterapkan di berbagai tempat, aspek, organisasi dan sebagainya. Kekeluargaan merupakan satuan mendasar dari kekerabatan. Rasa kekeluargaan tidak hanya ada pada kelompok dengan hubungan darah. Apabila suatu perkumpulan masyarakat memiliki rasa solidaritas yang cukup tinggi dan terus dipupuk, maka akan muncul istilah rasa kekeluargaan. Satu keluarga saling memahami dan mengenal anggota keluarganya, merasa terikat dengannya, sehingga hal apapun yang terjadi dengan salah satu anggotanya berarti mengusik satu kesatuan keluarga itu. Karena keluarga berarti tidak ada yang ditinggalkan atau dilupakan.
Setelah penjabaran poin-poin diatas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa dengan diawali rasa kebersamaan, maka timbulah rasa solidaritas yang dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan rasa kekeluargaan.

Semoga Impian kami bukan sekadar kembang gula susastra dan bisa diimplementasikan menjadi aksi nyata. Salam SEGAR

KOMENTAR