‘Tenggelam’ di Pantai Biak Numfor Papua

253

Catatan perjalanan Saya Subandoyo ke Biak Numfor Papua. Keindahan itu adalah hadiah yang Tuhan berikan kepada kita, sangat spesial penuh cinta. Kita semua sudah seharusnya bersyukur diijinkanNya mengecap keindahan tanpa perbedaan status. Setiap mata bisa merasakan sensasi laut biru kehijauan, gunung rimbun berlumut, dan hamparan padi menguning yang menentramkan jiwa.

Kemanapun kita pergi mengunjungi alam ini, semakin kita disadarkan bahwa alam ini adalah hadiah penciptaan. Sajian kemahakuasaan untuk dinikmati dengan sempurna. Setiap penjumpaan dengan keindahan selalu kita diberi kenangan, menjadi warna baru kehidupan, mengiringi langkah-langkah kecil kita menelusuri setiap pojok sejarah kehidupan.

Biak Numfor Papua

Haru biru keindahan, Itulah suasana hati saya ketika pertama kali melihat laut di pantai Kabupaten Biak Numfor Papua. Laut seperti sedang mengeksposekan pesona diri kepada saya -sang pengunjung pemula yang takjub.

Ia seolah berkata-kata tentang indah warna air kehijauan, tentang kejernihan, tentang ketenangan dan juga tentang pesan untuk tetap menjaganya. Riak gemulai air menyapa ramah, mengajak bercumbu melepas penat tanpa batas.

Sore itu, tidak ada gelombang di hamparan ratusan meter pantai pasir putih yang dangkal, pasir laut putih seperti sengaja dihamparkan menjadi penegas keindahan dan menanti kaki-kaki telanjang bermain di basahnya, semua disediakan dengan teramat sempurna.

Tak harus menunggu lama, tubuh ini mencebur ke pantai. Terlalu sayang jika sekedar dilihat, ibarat menu makanan yang tak cukup hanya dilihat pesona warnanya. Byur…byur.. sekali melompat mencebur ke laut, seluruh tubuh basah.

Karena hari sudah sore, air laut sudah agak dingin menyapa kulit dan kubiarkan seluruh pori-pori disapa air garam yang sangat baik untuk kesehatan. Benar saja, air pantainya benar-benar bersih dan nampak jauh lebih bersih dari air di kolam renang yang biasa tidak terlalu bersih. Tak ada rasa kesat di kulit, dan seperti sedang melalui proses terapi dimana tubuh meluruh dalam alam yang damai, bersih, indah, di ujung Indonesia.

Oh inilah salah satu spot pantai ujung nusantara, ribuan kilometer dari rumah. Sangat ingin rasanya berbagi suasana dengan anak-anak tercinta, Mutiara Cinta Cendikia dan Izzati Nurani Pertiwi. Bermain air yang jernih dalam suka cita, dan dalam rasa syukur penciptaan.

Saya ‘Subandoyo’ Tenggelam di Pantai Biak Numfor

Saya biarkan tubuh rebah “tenggelam” sesaat dalam keindahan pantai eksotik ini. Di sisi pantai sebelahnya tampak warga lokal papua sedang bermain, anak anak berenang, bermain pasir, berlari-larian, saling kejar saling tangkap kadang bergulingan di atas pasir putih sambil tertawa.

Kebahagiaan mereka mungkin jauh lebih lepas dan sehat dibandingkan anak-anak seuisianya yang bahagia bermain game zone di mall-mall besar berisik kota kota besar. Sama sama tertawa, sama sama bahagi, bedanya semuanya di sini alami, tanpa sekat, gratis, permainan yang “terbuka selama” 24 jam tanpa tiket dan penjaga.

Kalau bukan karena waktu segera menjelang magrib, mungkin saya masih betah berlama-lama berendam dan sedikit berendam di salah satu spot pantai biak numfor. Segera membersihkan badan dengan air tawar, walaupun sebenarnya sekalipun tidak dibilas, rasanya badan gak lengket.

Hanya karena kebiasaan kalau sudah mandi di laut dibilas pakai air tawar. Sensasi segar di senja hari sambil memandang keindahan laut memang selalu mengesankan, sensasi yang tidak akan pernah bosan sekalipun terus diulang-ulang.

Masih berminggu-minggu kemudian saya di biak numfor dan berkali-kali juga menikmati lautnya di berbagai spot yang membuat tidak pernah bosan, salah satunya di bekas hotel bintang pantai hotel marow dan di spot water basis angkatan laut di biak.

Kabupaten Biak Numfor memang ditakdirkan menjadi pulau karang, di tengah hutanpun jika pohonnya rebah maka di balik akar yang rubuh akan terlihat karang. Dimanapun lahan di Biak Numfor yang semakin digali akan semakin putih, di kebun-kebun tanaman juga bertahan di atas karang.

Pulau yang bahkan nyaris tanpa tanah dalam spot besar tentu gersang, tetapi dibalik itu menyajikan keindahan yang luar biasa. Ada banyak yang masih diingat di biak, terutama tentang anak-anak yang bermain di pantai, tubuh-tubuh polos penuh rasa bahagia, yang mengari bahwa kebahagiaan tidak perlu artifisial, tidak perlu dikondisikan dan tentu tidak perlu berbiaya mahal.

Selama beberapa minggu di Biak, saya akui akronim BIAK yang katanya singkatan dari Bila Ingat Akan Kembali, ya paling tidak akan kembali untuk mencumbu lagi jernih lautnya, dengan keriangan-keriangan baru.

Peta Lokasi Biak Numfor Papua

KOMENTAR