Fenomena Study Tour Sekolah

40

Ini tulisan bagus dari Tere Liye
*Ikut bayar, dong

Nilai bisnis study tour itu tidak kecil. Jumlah murid SMP adalah 10 juta, SMA+SMK 9,5 juta, dan SD 25,5 juta. Total jenderal 45 juta.

Jika 30% saja dari mereka ikut study tour per tahun, maka itu setara 13,5 juta murid. Dan jika satu murid menghabiskan 500.000, maka itu setara 6,75 trilyun. Bayangkan, dalam setahun, bisnis study tour sekolah bisa sebesar itu.

Silahkan buka google, ketikkan di sana ‘paket study tour sekolah yogya-palembang’, atau ketikkan kota2 lain, maka akan muncul banyak sekali perusahaan travel yang menawarkannya.

Paket 2 hari 3 malam Jakarta-Yogya, dengan murid 100 orang, ditawarkan 1 juta per murid. Paket 7 hari 3 malam nginep di hotel, sisanya nginep di bus, Palembang-Yogyakarta dengan murid 200 orang, ditawarkan 2,5 juta per murid. Maka jika ada 200 murid yang berangkat, satu sekolah saja 500 juta pasarnya. Berangkatlah 6-7 bus ke Yogyakarta.

Biro agen study tour ini sama seperti perusahaan travel lainnya. Nature bisnisnya sama. Apa artinya? Mereka dengan mudah bisa kasih diskon, cashback. Karena memang jasa travel itu marginnya menarik saat pesertanya banyak. Ayo, pakai jasa kami, nanti kasih diskon 20%. Kami kasih cashback, kursi gratis, ole-ole gratis, dan semua fasilitas.

Sah-sah saja loh bikin study tour. Itu sangat bagus malah. Banyak manfaatnya. Itu aktivitas di luar sekolah yang memang disarankan. TAPI, sepanjang sekolah memang bersedia, murid2 ada yang mau ikut, DAN TIDAK DIWAJIBKAN. Silahkan berangkat study tour. Sekolah yang mampu, murid yang mampu, study tour ke Jepang, Eropa, juga boleh. TAPI SEKALI LAGI, TIDAK DIWAJIBKAN.

Apa itu diwajibkan? Semua murid harus ikut. Maka mulailah dicari akalnya. Satu, murid dan orangtuanya disuruh nabung. Ini sih kesannya mulia, bagus. Tapi hei, itu sama saja, dipaksa nabung sejak awal sekolah. Dua, pakai istilah subsidi silang. Nanti murid yg mampu nalangin yang tidak. Lagi2 ini sih kesannya mulia, bagus. Tapi hei, itu juga dipaksa, ngapain harus nalangin utk sesuatu yang hanya kebutuhan jalan2 saja. Tiga, mulai serius, murid diancam ini dan itu. Empat, yang tidak ikut disuruh bayar separuh atau dikasih tugas yang bejibun. Lima, dan seterusnya, aduh, kreatif sekali sekolah2 memaksa muridnya. Itu fakta. Bukan hoax.

Sorry, tidak ada satupun argumen kalian yang tersisa untuk mewajibkan study tour. Saya tahu aktivitas luar sekolah itu wajib. Tapi nggak juga harus nyuruh anak bayar 500.000 atau jutaan. Saya tahu, konon katanya, murid sendiri yang maksa mau jalan2. Lah, apa tugas kalian sebagai pendidik? Dipaksa murid kok mau? Harusnya dijelaskan, tidak harus ngabisin uang berjuta2 demi study tour. Ada banyak pilihan jalan2 yang bahkan sepeser pun tdk mengeluarkan uang. Saya tahu, ngurus murid2 jalan2 itu repot, nanti jika ada kenapa2 guru yang kena. Lah, kalau sudah tahu repot, kenapa tetap diadakan?

Bisnis study tour ini memang menakjubkan. Saya tinggal di Bandung, hampir tiap hari itu parkiran Trans Studio Mall disesaki oleh bus-bus, diserbu ribuan murid2. Catat baik2, satu sekolah di Sumatera dengan murid 200, pergi ke Bandung-Yogya, itu nilai bisnisnya minimal 500 juta, bahkan bisa 1 milyar jika busnya lebih bagus, penginapannya tidak ber-empat/ber-lima.

Boleh study tour. Boleh. Bagus sekali malah. TAPI JANGAN DIWAJIBKAN. Paham nggak sih? Ini sudah ditulis berkali2, pakai capslock, masih saja ada yang mengotot. Membela diri. Jika sekolah kalian memang tidak mewajibkan murid. Bagus dong. Tidak usah tersinggung, marah2. Atau ssst, sebenarnya kalianlah pelaku yang memaksa murid2 ikut study tour dengan segala dalih? Ih, menjijikkan.

Dan termasuk jika kalian orang tua murid yang mampu. Jangan pula ngompori untuk study tour. Kalian sih mampu, tapi ingat, di Indonesia itu ada 25 juta lebih penduduknya yang penghasilannya hanya 350.000/bulan. Paham artinya? ARTINYA, saat dia disuruh bayar 400.000 untuk study tour, itu berarti dia sebulan penuh harus puasa, tidak makan, tidak minum, tidak boleh mengeluarkan uang sepeser pun. Cukup uangnya setelah sebulan tidak makan minum? Masih kurang 50.000. Hanya karena menurut kalian uang 10 juta itu cuma upil, bukan berarti semua orang hidup dengan standar kalian. Adalah fakta, orang tua murid yang susah, ngutang, gadaikan barang, repot, stres gara2 harus nyiapin uang study tour. Sekolah sudah gratis, buku2 gratis, eh study tour minta jutaan.

Boleh study tour? Boleh. Bagus sekali malah. Astaga, Ferguso, Marimar, elu paham nggak sih? BOLEH. TAPI JANGAN DIWAJIBKAN.

Nah, jika elu masih mengotot tetap diwajibkan ke semua murid. Pastikan semua guru, anggota keluarga guru, siapapun yang ikut, harus bayar sama seperti murid. Tidak ada etikanya jika pakai kursi gratisan, jatah diskon, dsbgnya. Ewww….

*Tere Liye

KOMENTAR