Gara-gara Uang Study Tour, Ayah Bunuh Siswi SMP yang Tewas di Drainase Sekolah

381

Mengenaskan hanya dikarenakan kekurangan uang untuk Study Tour 100 Ribu Rupiah, seorang Ayah gelap mata dan tega membunuh anak kandungnya sendiri dan membenamkannya di selokan sekolah.

Harus agak dikurangi budaya Pihak sekolah mencari EO yg harganya pengen murah banget tapi memungut dari siswa atau siswi dengan harga wajar atau bahkan termasuk tinggi. Kalaupun ini dilakukan.. Berikan subsidi atau bahkan gratiskan siswa tidak mampu. Apalagi jika kegiatan ini wajib. Uang saku buat siswa tak mampu atau guru honorer yg ikut menjadi pendamping tapi keuangan minim, karena sepertinya “bapak dan ibu guru” saat ini bukan lagi seperti zaman Oemar Bakri.

Ibarat bebankan harga dji sam soe ke siswa tapi beli rokok sukun djaya ke EO.. Makanya kadang kita menghindar move ke sekolah2… Zaman sekarang Kadang ‘pihak sekolah’… “etika bisnisnya jauh lebih kejam dibanding plat merah atau coorporate”

Apakah karena siswa/siswi Study Tour itu minim complain dan para siswa pasrah menginap dimana dan diberikan transportasi seperti apapun tidak akan banyak mengeja dan bertanya?

Info tambahan walaupun tidak penting, saya dulu saat SMP tidak ikut Study Tour alasannya sederhana ayah dan ibu saya yang saat itu bekerja sebagai Guru tidak mempunyai “uang saku” karena kalau untuk bayar digratiskan kebetulan saya anak Guru di sekolah tersebut 🙂 sedih Banget waktu itu tapi alhamdulillah tetap senyum dan pede serta tidak merasa minder hehehe… (silahkan cek ke teman2 smp saya, apakah saya ikut Study Tour atau tidak, dan mereka pasti tidak akan menyangka alasan saya tidak berangkat).

KopiTozie Founder HdG Team

Study Tour dan salah satu dampaknya;

Kasus anak yang dibunuh bapaknya karena biaya study tour yang tidak mencukupi uangnya.
Tentu saja pembunuhan alasan apapun sangat tidak layak dibenarkan.

Mari merenungi ini.
Sekolah hendaknya berbijaksana dalam mengadakan acara study tour. Biaya yang nampak tidak besar bagi sebagian orang, bagi sebagiannya lagi adalah beban berat.
Harus memisahkan bahkan memaksakan untuk mengabaikan hal lain yang lebih urgent.
Bijaklah duhai sekolah…
Walau tidak mewajibkan, seringkali menjadi tekanan seolah wajib.
Bagi anak yang tidak ikut, ini adalah beban tersendiri. Merasa tersisih jika tidak ikut.
Belum lagi memang diapun mungkin sangat ingin ikut, menikmati moment yang sebetulnya lebih condong pada piknik daripada ‘study’.
Karena seringkali poin edukasinya sendiri, nihil.

Evaluasi lagi kegiatan seperti ini.
Tidak bisa menutup mata, bahwa ada pihak yang diuntungkan dari kegiatan seperti ini. Beban finansialnya jatuh pada anak-anak peserta. Apakah (maaf) para pendamping ikut bayar atau tidak, (boleh dijawab di hati saja).
Saya tidak tahu.

Semoga status ini dibaca para oknum sekolah. Dan terketuk hatinya untuk mengevaluasi setiap kegiatan yang berbau uang.

Dan merangsang para orang tua untuk berani menolak kegiatan ini. Di sisi lain orang tuapun harus mampu memberikan pemahaman pada anak-anaknya soal unfaedahnya program ini. Butuh piknik tidak berarti memaksakan diri tapi berbijaksana pada sekian poin urgensi yang harus dihadapi dalam kepentingan berpendidikan yang sebenarnya.

Betapa mudahnya nyawa melayang, saat kondisi tertekan membuat kehilangan akal sehat.
Prihatin…
😥😥😥

Status Vee Valda

Budi Rahmat (45), pelaku pembunuhan siswi SMP di Tasikmalaya yang tewas di drainase sekolahnya, Delis Sulistina (13) tertangkap. Delis dibunuh ayah kandungnya sendiri karena kesal dimintai uang untuk biaya studi tour. Sesuai informasi dari Kepolisian setempat, kejadian bermula saat korban mendatangi tempat kerja ayahnya sepulang sekolah memakai angkutan umum, Kamis (23/1/2020) sore.

Setibanya di tempat kerja pelaku yakni salah satu rumah makan di Jalan Laswi Kota Tasikmalaya, korban bertemu dengan ayahnya dan meminta uang untuk studi tour sekolahnya ke Bandung sebesar Rp 400 ribu. Pelaku sempat berupaya memberikan uang kepada korban Rp 200 ribu dan meminjam kepada bosnya Rp 100 ribu. “Karena korban merasa pemberian uang ayahnya kurang, korban dibawa ke rumah kosong dan sempat cek cok dengan pelaku.

Lokasi rumah kosong itu dekat dengan tempat kerja pelaku sekaligus TKP pembunuhan terjadi,” jelas Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Anom Karibianto saat Konferensi Pers, Kamis (27/2/2020). Anom menambahkan, pelaku yang masih keadaan emosi seketika mencekik korban sampai meninggal dunia. Setelah diketahui meninggal, pelaku sempat membiarkan mayat anaknya di rumah kosong tersebut untuk kembali bekerja sekitar pukul 16.00 WIB, Kamis (23/1/2020) sore. Seusai bekerja sekitar pukul 21.00 WIB, pelaku kembali ke TKP untuk menyembunyikan mayat anaknya di gorong-gorong sekolahnya SMPN 6 Tasikmalaya. “Tujuan pelaku menyembunyikan mayat anaknya di gorong-gorong sekolahnya supaya dikira bahwa kematian anaknya karena kecelakaan,” tutur Anom.

source berita : https://regional.kompas.com/

KOMENTAR